Sebuah proyek mebel bukan hanya tentang memotong kayu dan menyambungkannya dengan paku. Di balik setiap serat kayu jati yang dihaluskan, terdapat cerita tentang visi, jarak ribuan kilometer, hingga dinamika ide yang terkadang berselisih paham.
Begitu pula dengan kisah kolaborasi antara Joyo Mebel dan Tuan El, sebuah perjalanan estetika yang membentang dari tanah Yogyakarta hingga ke Medan, Sumatera Utara.
Berikut adalah catatan perjalanan proyek pembuatan 10 meja kafe yang penuh dengan dinamika dan dedikasi.
Pertemuan Tak Terduga di Kota Gudeg

Kisah ini bermula pada penghujung Februari 2024. Tuan El, seorang pengusaha dengan visi tajam asal Medan, sedang berada di Yogyakarta. Kehadirannya di kota pelajar ini sebenarnya bukan untuk urusan bisnis utama, melainkan sebuah kunjungan silaturahmi ke rumah seorang kawan lama.
Namun, bagi seorang pengusaha, inspirasi bisa datang di mana saja. Di sela-sela kunjungannya, ia merencanakan sebuah proyek baru: membangun sebuah warung kafe yang hangat dan berkarakter. Ia membutuhkan furnitur yang tidak hanya kuat, tetapi juga memiliki “ruh” yang hanya bisa diberikan oleh kayu jati pilihan.
Pencariannya membawanya ke bengkel kerja Joyo Mebel. Pada tanggal 24 Februari 2024, Tuan El menghubungi kami. Diskusi mengalir dengan cepat. Ada kesamaan visi yang membuat kesepakatan atau deal terjadi tepat di hari yang sama. Tuan El menginginkan sesuatu yang fungsional namun memiliki detail yang unik untuk kafenya.
Namun, layaknya sebuah cerita, selalu ada bumbu tantangan di awal. Meski kesepakatan sudah bulat, proses administrasi atau uang muka (DP) mengalami kemunduran selama tiga hari. Hal ini secara otomatis menggeser jadwal produksi, namun tim Joyo Mebel tetap bersiap dengan standar kualitas tertinggi.
Detail Spesifikasi: Keindahan dalam Presisi
Tuan El tidak memesan meja biasa. Ia memesan 10 buah meja yang dirancang khusus untuk menciptakan suasana kafe yang nyaman. Material utamanya sudah pasti: kayu jati. Kayu ini dipilih karena reputasinya yang tahan banting, seratnya yang indah, dan nilai investasinya yang tinggi untuk jangka panjang.
Proyek ini terbagi menjadi dua spesifikasi utama:
- 5 Unit Meja Besar: Dimensi panjang 120 cm, lebar 60 cm, dengan tinggi 43 cm.
- 5 Unit Meja Kotak: Dimensi 60 cm x 60 cm, dengan tinggi 43 cm.
Ketinggian 43 cm ini mengisyaratkan sebuah konsep kafe yang lebih santai, mungkin dengan gaya lesehan modern atau penggunaan kursi pouf yang rendah. Namun, yang membuat pesanan ini istimewa adalah permintaan fungsionalnya: laci di sisi samping.
Laci ini bukan sekadar hiasan. Tuan El merancangnya sebagai wadah penyimpanan sendok, garpu, atau serbet. Dengan adanya laci ini, permukaan meja tetap bersih dan luas bagi pelanggan kafe, sementara peralatan makan tersimpan rapi namun tetap mudah dijangkau. Untuk menyempurnakan keindahan alaminya, seluruh permukaan meja diberikan sentuhan finishing melamin yang memberikan efek glossy yang halus dan mewah.
Dinamika Kreatif: Ketika Banyak Kepala Bertemu

Setiap proyek besar jarang sekali berjalan tanpa riak. Tantangan terbesar dalam proyek Tuan El bukanlah pada ketersediaan kayu atau teknik pertukangan, melainkan pada penyelarasan ide.
Tuan El tidak membangun kafe ini sendirian. Ia merencanakannya bersama beberapa rekan bisnisnya. Di sinilah dinamika dimulai. Ketika proses produksi sudah berjalan, terjadi perbedaan pendapat di internal pihak Tuan El mengenai model dan bentuk akhir meja tersebut.
“Pak El bilang begini, temannya bilang yang lain,” kenang tim Joyo Mebel. Perselisihan model ini sempat membuat tim harus melakukan modifikasi pada beberapa bagian meja yang sebenarnya sudah setengah jadi. Sebagai pelaksana, Joyo Mebel dituntut untuk sabar dan adaptif.
Kami memahami bahwa sebuah bisnis yang dibangun bersama memang membutuhkan konsensus, dan tugas kami adalah memastikan hasil akhirnya memuaskan semua pihak tanpa mengurangi kualitas struktur meja itu sendiri.
Meskipun harus melalui proses bongkar-pasang ide dan modifikasi mendadak, semangat profesionalisme tetap dijaga. Kesabaran adalah kunci hingga akhirnya desain final disepakati oleh seluruh tim Tuan El.
Menunggu Waktu yang Tepat untuk Menyeberang Pulau
Produksi sebenarnya telah selesai jauh-jauh hari. Sebelum hiruk-pikuk Lebaran tiba, sepuluh meja jati tersebut sudah berdiri gagah di workshop Joyo Mebel, siap untuk dikirim. Namun, mengirim barang dalam jumlah besar ke Medan, Sumatera Utara, memerlukan koordinasi logistik yang matang, terutama di musim libur panjang.
Karena kendala jadwal ekspedisi dan pengaturan muatan, meja-meja tersebut harus “menginap” sejenak di gudang kami. Kesabaran Tuan El kembali diuji, namun koordinasi tetap berjalan lancar.
Akhirnya, pada hari Jumat, 4 April, langkah pertama pengiriman dimulai. Meja-meja tersebut dikirim terlebih dahulu ke daerah Ponjong, Gunung Kidul. Mengapa ke sana? Karena di sanalah titik temu atau pos pengiriman paket khusus yang akan mengangkut furnitur-furnitur berat ini menuju pelabuhan dan menyeberang ke Pulau Sumatera.
Total nilai investasi untuk 10 meja jati kustom ini mencapai Rp8.000.000. Sebuah angka yang sangat kompetitif mengingat kualitas bahan jati yang digunakan dan kerumitan detail laci serta modifikasi desain di tengah jalan.

Penutup: Dari Yogyakarta untuk Medan
Proyek Tuan El adalah pengingat bagi kami di Joyo Mebel bahwa setiap furnitur memiliki takdir perjalanannya sendiri. Meja yang kayunya kami pilih di Yogyakarta, kini akan menjadi saksi bisu percakapan ribuan orang di sebuah kafe di Medan.
Meskipun sempat ada drama perbedaan pendapat antar rekan bisnis dan kendala jadwal kirim, hasil akhirnya adalah sebuah produk yang solid dan penuh karakter. Kepercayaan Tuan El meskipun ia berada jauh di Sumatera menjadi kebanggaan tersendiri bagi kami.

